Dia masih saja menengok ke belakang, seperti menunggu seseorang, berharap yang ditunggunya itu lebih mempercepat langkahnya. Selang beberapa menit dia menoleh, dia kembali berlari, mengejar waktu, berharap pintu gerbang sekolah masih terbuka. Nafasnya yang terengah-engah tak sia-sia.
“Cepat-cepat!” Pak satpam memerintah anak-anak yang terlambat dengan setengah mengampuni.
Dia tak menjawab apa-apa hanya nafasnya yang terengah-engah yang mampu dia suarakan.
“Der, sampai ketemu lagi istirahat nanti ya?” Ujar Dia ke teman yang ikut serta lari marathon tadi. Lari mengejar gerbang sekolah yang hampir ditutup. Dan Deri hanya menjawab dengan anggukannya sambil setengah masih terengah-engah.
Dia dan Deri, sejak lama menjadi sahabat baik, bahkan mereka seperti saudara, kakak dan adik, meskipun persahabaan mereka banyak mengundang rasa iri, tak jarang juga mereka digosipkan mempunyai hubungan istimewa.
“Tumben lama Der, udah aku pesenin bakso tuh tadi.”
“Waduh, aku udah kenyang ia, maaf ya?”
“Ya udah, ga papa.”
“Kenapa ga ngumpul bareng mereka?” Tanya Deri sambil menaikan kepala menunjuk ke arah teman sekelas Dia.
“Males.”
“Ada masalah sama mereka?”
“Mereka kan nganggep aku orang gila.”
Deri hanya terseyum sambil mengusap-usap kepala Dia, tanda kasih sayang terhadap teman yang dia kenal semenjak di taman kanak-kanak itu.
“Berarti kamu juga males sama aku juga donk? Soalnya menurutku kamu ga Cuma gila tapi juga sinting,hahaha...” ejek Deri menghibur Dia.
“Hahaha... aku kan sinting gara-gara punya temen sinting juga.”
Mereka berdua tertawa terbahak-bahak sampai-sampai mengundang pandangan mata, semua memandang aneh Dia yang tertawa dengan lepasnya.
Teeeeeeeet............... bel tanda masuk berbunyi, memaksa para siswa kembali ke kelasnya masing-masing.
“Bye Der, nanti pulang bareng ya?” Dia melambaikan tangan ke Deri yang kembali ke kelasnya. Deri menjawab dengan acungan jempolnya tanda setuju.
“Di, aku boleh ngomong sesuatu ga?” Tanya Yasmin, teman sebangku Dia.
“Aku udah tau kok kamu mau ngomong apa.” Jawab Dia ketus.
“Semua temen kamu, sayang sama kamu, jangan berpikiran kita semua menghakimi kamu.”
Dia tak menjawab, hanya berpindah tempat duduk. Yasmin hanya bisa menunduk sembari bermuka sedih, dan menghela nafas. Hubungan mereka beberapa minggu ini kurang baik. Dia beranggapan semua temannya bersikap egois karena melarangnya berteman dengan Deri dengan alasan yang menurutnya tak rasional. Hari itu pun bisa terlewati dengan lamanya. Dia tetap bersikeras pulang bersama Deri.
“Murung, kenapa?” tanya Deri sambil mengusap kepala Dia.
“Der, sebenernya apa masalah kamu sama temen sekelasku? Sampai-sampai mereka ngomongin hal yang ga masuk akal, kesannya ngelarang kita berteman? Mereka anggep aku gila.”
Deri hanya tersenyum tipis.
“Kalo udah sampe pertigaan, coba kamu belok kanan, lurus sampai kamu ketemu sama jawabanmu itu.”
“Kamu ini, aku ga tanya jalan.” Dia setengah sewot.
“Yang penting, ikuti kata hatimu, kalo kamu ngerasa aku jahat, kamu boleh nyari temen lain kok. Mereka ga salah sepenuhnya kok.” Jelas Deri bijak.
“Selama ini aku ga pernah ketemu sama temen kaya kamu Der.” Dia bermuka serius, setengah cemberut.
“Gitu juga kamu ia.” Deri tersenyum lembut.
“Aku mau mampir dulu ke sana, kamu pulang sendirian dulu ga papa?” tambah Deri.
“Oh, iya Der, ga papa, ati-ati ya? Makasih ya Der.
“Atas apa?” tanya Deri.
“Makasih udah ga anggep aku gila.”
“Siapa bilang? Aku anggep kamu itu sakit jiwa.” Guyon Deri.
“Kamu ini...” Dia mencubit Deri.
“Iya-iya non... sama-sama... makasih juga ya ia. Kalo ada kamu, ga sepi ini hari.” Deri mulai serius.
“Sama-sama, semua orang tau itu kok,hahaha...”
Deri dan Dia mengambil jalan yang bersimpangan. Deri mengambil jalan ke kanan, dan Dia ke kiri.
“Oh ya Der, nanti.... Huh, cepet banget tuh anak ngilang.” Gerutu Dia.
“Nyesel lo Der, mau aku ajak makan es krim juga.” Gumam Dia.
Esok harinya, ibu Dia yang biasanya tak sempat mengucapkan selamat pagi pada Dia, kali ini Ibu Dia sudah duduk di samping Dia yang sedang tidur. Ibu Ernita, begitu dia dipanggil, membelai lembut rambut anak perempuannya satu-satunya.
“Sayang, bangun, udah siang.”
“Mamah... tumben belum berangkat?” jawab Dia sambil mengusap-usap matanya yang masih kantuk.
“Hari ini kan minggu sayang.”
“Oh, iya...” Jawab Dia tersenyum wagu.
“Buruan mandi, mama mau ajak kamu jalan-jalan.”
“Oya? Kemana mah? Aku ajak Deri ya?”Rengek Dia.
Ibu Dia tak menjawab sepatah katapun, hanya memalingkan muka, mengalihkan pembicaraan.
“Dandan yang cantik ya, mamah tunggu di bawah.” Ibu Dia beranjak meninggalkan kamar Dia.
Tut.... tuut... tuuut...
“Nomer rumahnya ga ada yang angkat.” Gumam Dia.
Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau di luar jangkauan
“Ni anak kemana sih, kalo diajak jalan pasti ngilang gini deh.” Gerutu Dia sambil mengambil handuk beranjak mandi.
“Mah, emang Dia hari ini ulang tahun ya?”
“Kenapa tanya gitu?”
“Tumben mamah ngajak Dia jalan-jalan ma shoping gini.”
“Sekali-kali boleh kan? Kalo ga mau ya ga papa, ga lagi-lagi deh kalo gitu.”
“Enggak mah, Dia seneng kok, makasih ya mamah...” manja Dia.
“Iya, sama-sama. Sekolah yang pinter ya sayang, jangan terlalu stres mikirin hal lain.”
“Iya mamah.” Jawab Dia riang.
“Sekarang kita makan di sana yuk!”
“Wah, ini salah satunya yang Dia tunggu, makan! Hehe...”
Selesai mengambil menu, dan siap untuk melahapnya, tiba-tiba ada seseorang, bahkan banyak orang datang menghampiri Dia dan ibunya.
“Hai tante...”
“Eh, Yasmin.... dari mana? Sini, makan bareng-bareng.”
“Iya tan, kebetulan kita-kita lagi pada makan bareng. Hai Di, kamu ga keberatan kan kalo kita gabung?”
“Iya, ga papa.” Jawaban setengah terpaksa dari Dia.
Teman-teman sekelas Dia sedang ada acara makan bareng. Salah satu dari mereka ada yang merayakan ulang tahun. Sebenernya Dia diajak, tapi Dia menolak, tapi justru semua seperti direncanakan, Dia lupa kalau acara makan bareng teman sekelasnya di restoran tempat Dia dan ibunya makan sekarang. Dia menjadi sedih, karena ingat Deri, sahabatnya yang justru tidak ikut.
Besoknya, Dia menunggu Deri di depan rumahnya, tapi Deri tak kunjung terlihat, berlari mengejar waktu seperti biasanya. Dia menghubungi Deri tapi selalu tak bisa. Dia mencari ke kelas Deri, Deri rupanya sudah absen dari satu minggu yang lalu.
“Deri lupa absen apa ya?” gumam Dia.
Sudah dua hari ini, Dia menyendiri, tanpa Deri yang Dia cari untuk menemaninya seperti hari biasanya.
Sepulang sekolah, tanpa Deri, Dia berjalan sendirian, mengenang terakhir kali Deri pulang bersamanya.
“Kalau kamu pengen tau jawabannya, setelah jalan ini ada pertigaan, kamu belok kanan.”
“Dasar Deri, aku ga tanya jalan.” Dia berkhayal tentang lelucon Deri yang terakhir itu. Dia iseng melihat ke jalan. Jalan ke kanan dari pertigaan jalan. Dia iseng mengambil jalan itu. Berharap bertemu dengan Deri. Hampir 500 m Dia berjalan santai sambil menoleh ke kanan dan kiri. Dia tak pernah melintasi jalan itu sebelumnya. Tiba-tiba Dia melihat seseorang yang Dia kenal. Dia berlari mendekat ke arah orang itu. Tapi Dia sengaja tak menampakkan diri. Setelah orang itu berlalu, Dia menuju tempat yang tadinya dikunjungi oleh orang yang Dia kenal.
“Ga mungkin!” mata Dia terbelalak, ketika Dia sampai di depan sebuah makam, yang tadinya, orang yang Dia kenal, Ibu Deri, beranjak dari tempat itu. Di makam itu tertulis jelas dengan nama DERI SATYA PUTRA.
Lutut Dia seketika lemas, airmatanya jatuh semakin sering. Dia semakin tak percaya dengan yang Dia lihat. Dia berlutut di depan batu nisan. Tangisnya semakin pecah, setelah melihat tanggal yang tertera di batu nisan, tanggal itu baru satu minggu yang lalu, sementara Dia masih merasa bersama Deri semenjak seminggu yang lalu, ternyata benar yang Yasmin dan teman-teman sekelas bilang, Deri sudah tiada, sementara Dia masih merasa Deri di sampingnya. Dia terlanjur menganggap Yasmin dan teman lainnya gila.
“Pantas saja mamah selalu mengalihkan pembicaraan, pantas saja aku selalu tak bisa menghubungi Deri, pantas saja Deri absen 1 minggu ini, ternyata.....” Ucap Dia dalam hati dan saat itu semuanya berubah gelap. Dia pingsan.
“Dia sayang, bangun sayang...”
“Mamah...” rintih Dia.
“Dia... Dia...” teman-teman satu kelas Dia merasa lega, Dia sudah siuman.
“Mah, Deri kenapa....” Dia meneteskan airmata.
“Sayang, istirahat dulu ya.”
“Tolong jawab Dia, mamah.”
Setelah beberapa detik semuanya hening, ibu Dia pun akhirnya menyerah dan memilih untuk menceritakannya.
“Waktu itu, Deri pulang sekolah sama kamu, naik motor. Biasanya Deri jalan kaki, tapi hari itu, Deri baru dibelikan sepeda motor oleh ibunya. Tapi memang Deri sudah digariskan untuk dipanggil hari itu. Kalian tertabrak mobil, Deri parah, dan meninggal waktu perjalanan ke rumah sakit, sementara kamu, terkena gegar otak dan lost memory, kamu ga inget kejadian saat itu, kamu siuman setelah Deri dimakamkan. Dan kamu masih tidak percaya dengan kata-kata temanmu, padahal mereka sangat menyayangimu. Mereka juga yang membawamu ke sini, karena setiap pulang sekolah, Yasmin selalu mengikuti kamu, da selalu memastikan kamu seudah pulang sampai rumah.”
Dia hanya menangis histeris, ibunya memeluknya, Yasmin masih setia di samping Dia, untuk menguatkannya.
“Deri yang bilang mah, kemarin lusa, Deri bilang, kalo aku pengen tahu jawabannya kenapa temen-temenku beranggapan aku gila, aku ke tempat itu mah... ternyata itu makam Deri mah...” Dia kembali menangis. Masih tak percaya.
“Mamah mengerti sayang...” Ibu Dia ikut menangis, melihat anaknya yang rapuh.
Dia menggapai tangan Yasmin.
“Teman-teman, makasih ya, dan maaf, aku udah salah sangka terhadap kalian.”
Suasana sore itupun menjadi haru, semua memeluk Dia, tanda sayang teman-teman terhadapnya.
Hari esoknya, Dia masih memandangi jalan itu, jalan yang biasanya Deri datang berlari sambil terengah-engah.
“Aku ngerti Der... Kamu baik-baik ya di sana.”
Dan hari itupun mulai dilalui Dia, dengan keikhlasan tanpa Deri.
Senin, 23 Mei 2011
Selasa, 23 November 2010
Habis Manis Sepah Dilempar

Lagi-lagi aku penasaran, dan lagi-lagi aku mengarahkan penglihatanku. Sederet foto-foto yang sangat menyenangkan untuk dilihat.
Foto Mutia bersama teman-temannya, kecuali aku.
Tak heran, tak ada fotoku di situ, di facebooknya.
Aku selalu menolak untuk ikut touring setiap kali mereka mengajakku. Traumaku belum sembuh. Walaupun aku terkadang merindukan masa-masa aku ditipu kemunafikan ketika mereka menyebutku "Teman".
Kalau tidak salah waktu itu aku sedang asyik bersantai selesai bekerja untuk menghidupi diriku. Tiba-tiba Mutia menghampiriku sambil tersedu-sedu. Dia lari rumah rupanya.
"Bukan gini caramu menyelasaikan masalah sist"
"Tapi mereka ga pernah ngertiin aku, kuliahku."
"Terus? sekarang mau kamu gimana?"
"Aku mau ke Bandung aja, tapi aku ga punya uang sepeserpun."
Tak perlu dia menyebutkan, aku tahu yang dia minta dari sebuah pertolonganku.
"Ini ada rejeki, kebetulan tadi aku dapet customer."
"Tapi Shin..."
"Kalo ga mau, kamu mau ke Bandung naik apa? Terbang?"
Aku membuatnya tersenyum sedikit.
"Makasih sist... u are my best friend."
Dia mmelukku sembari menangis. Satu-satunya teman yang aku percaya dan tahu semua tentangku, dia, Mutia.
Seminggu dia di Bandung, dia kehabisan biaya.
"Aku belum makan sist.. yang aku punya cuma susu, itu aja ga ada air."
seketika tak perlu berpikir, aku mencari pinjaman sana sini, tanpa sadar aku menangisi temanku satu-satunya itu.
"Sist, aku cuma bisa bantu segitu, take care ya disitu."
"Makasih banget sist, aku ga tau gimana jadinya ga punya temen kaya kamu, jangan pernah bosen jadi temenku."
"As long as I can sist..."
dan tanpa terbesit dipikiranku, itu massage terakhir yang aku terima dari dia. Kami loose contact selama sebulan.
Tanpa ada badai apapun, tiba-tiba ada massage masuk ke inbox ku.
"Aku nyesel pernah ketemu kamu, ternyata kamu ga sebaik yang aku kira, kamu munafik!"
Tanganku gemetar, air mata jatuh satu-satu, beberapa menit aku terdiam, memastikan yang aku baca ternyata benar-benar dari mutia. Hebat benar dia, gumamku sambil mencoba tersenyum, berpura-pura tegar.
Dia ternyata tak terima dengan sikapku yang menyampingkan lelaki yang menyayangiku, dan aku menolaknya karena aku ingin menyenangkan diriku sendiri dulu.
Hanya karena masalah kecil , masalah privasiku dia menyebutku seperti itu.
Aku berjanji terhadap diriku sendiri : "TEMAN bukan untuk terlalu dipercaya."
Tak lama, 2 hari setelah itu, dia memnta maaf tapi dia agak mengelak dia tak mengaku menuduhku seperti itu.
Tapi aku terlanjur sakit.
MAAF
Rabu, 16 Juni 2010
Siap untuk Menang?
Joke itu membuatku geram, ingin membuktikan walau hanya sekedar untuk mengajarkan seseorang itu kerendahan hati. Tapi aku lebih suka berlatih sendiri, sebelum aku muncul dihadapan mereka dengan hasil latihanku.
Satu minggu lagi, pertandingan itu membuatku tidur tak nyenyak, aku hanya tak ingin merasa aku pribadi yang kecil dihadapan siapapun. Aku hanya merasa ingin dianggap keberadaannya, jika aku tak jatuh cinta dengan bola basket dan keringat, aku tak akan merelakan diri untuk dicemooh, aku terlanjur tak bisa melepaskan ini, paling tidak aku diberi waktu untuk membuktikan kali ini saja.
Setiap pukul 05:00 pagi aku menyempatkan diri untuk mencari keringat, tekadang berdua, bersama orang yang mencintaiku, dan lebih sering sendiri. Dan aku merasa puas dengan latihanku.
Malamnya, malam sebelum hari pertandingan itu, aku mendapat pesan singkat untuk berangkat 15 menit sebelum pertandingan, mengenakan kostum warna putih. Aku sudah menyiapkan semuanya. Celana warna silver bernomor 10 dan kaos putih.
Pukul 15:00 aku datang ke lapangan, ternyata ada kuliah mendadak, sampai-sampai aku tak bisa datang 15 menit sebelumnya, tapi rupanya yang datang baru empat orang. Yang aku kenal di antara mereka hanya satu, Tika namanya. kami dulu sering berlatih bersama. Cici datang, dia yang menjadi lawanku beberapa waktu yang lalu dan sempat membuatku emosi. Dia yang aku kira angkatan kakak kelasku karena gayanya yang sok senior, bukan lain, ternyata dia angkatan adik kelasku, tapi mungkin pengeculian baginya untuk menyapaku dengan panggilan yang agak sopan, tidak untuk Tika, yang dia panggil mbak Tika. Aku tak memperdulikan itu. Terserah dia, mungkin dia begitu karena orang yang selama ini dia harapkan untuk mencintainya justru mencintaiku. Satu point yang kumenangkan darinya. Aku tersenyum jika mengingat hal itu
Cici datang membawa kostum basket, yang dia pinjam dari fakultas keolahragaan, rupanya dia mempersiapkan kostum berwarna merah untuk menutupi kaos putih, dia membagikan kaos itu untukku, nomor punggung dan nomor celananya tidak kompak. Celananya bernomorkan 4, dan bajunya kalau tidak salah bernomorkan 9. Ternyata aku kebagian sisa. Tapi aku sama sekali tak merasa kecil. Sudah terbiasa aku dibegitukan. Di dalam tas tempat kostum itu ternyata masih ada kostum berwarna biru yang bernomor 14 kalau tidak salah.
”Ci, aku pake yang ini aja ya?”
”oh, ya boleh-boleh, dari pada nomornya ga sama.”
Aku memakai kostum yang berbeda dengan yang lain. Tak masalah.
Peluit dibunyikan tanda dimulai, kekasihku bersama kakak perempuanku sudah standby untuk menyaksikanku.
Kuarter pertama, aku hadir dalam pertandingan itu, dan aku berhasil mencetak 2 angka, walaupun seharusnya aku bisa mencetak 10 angka, ring itu masih mengajakku untuk bersabar. Tapi aku puas.
Kuarter kedua dimulai.
”Ver, kamu rest dulu ya?” Cici sang kapten memerintahku.
”OK” aku jawab santai.
”Mba Ades, main ya mbak.” perintahnya lagi.
Aku menonton kuarter kedua. Aneh, aku sama sekali tak merasa jengkel diistirahatkan di kuarter kedua ini. Ternyata aku telah puas dengan point yang aku ciptakan. Walaupun hanya dua.
Pertandingan dimenangkan oleh teamku. 8:0. Ada yang termakan omongannya sendiri. Orang yang pernah menantangku, kekasihnya kalah telak, 8:0, walaupun tak samapi 66:0.
Semenjak pertandingan itu, aku tak yakin aku main kembali dipertandingan final. Dan aku tak berharap. Aku hanya menunggu perintah kapten.
Tebakanku meleset. Sang kapten masih membutuhkanku. Besok pertandingan jam 14:00. Final.
Kali ini aku datang terlambat. Aku datang pukul 14:15. Sang kapten itu sudah menelponku berkali-kali. Begitu aku datang bersama kekasihku.
”Ho... kamu tak tunggu dari tadi.”
”iya, maaf, tadi ada acara mendadak.”
”ya udah, yang penting kita minimal ada 5 anak di sini.”
Ternyata dia bingung banyak pemain cadangan tak bisa datang.
Pertandingan kali ini berbeda, lebih meriah, atribut-atribut itu, bendera, dan kursi-kursi, rupannya ada lomba dance juga.
Dancer-dancer sexy menjadi penyambut pemain-pemain basket. Sembari menunggu, menonton dancer sambil stretching. Peluit sudah ditiup. Kali ini aku tak bisa meremehkan lawan. Aku tahu siapa lawanku, dia juga anak basket fakultas, biasa bermain bersama, terkadang.
”Ci, ini kostum kamu, makasih ya”
”oh ya, sama-sama.”
Aku kembalikan kostum Cici, yang membuatku tak kompak warna dengan teamku. Aku juga punya kaos merah bertuliskan nama Universitas, lebih tepatanya itu kaos kekasihku.
Kuarter pertama dimulai, tak ada pemain cadangan, hanya satu.
Ternyata benar feelingku, mereka tak bisa diremehkan, kuarter pertama teamku tertinggal 2 angka. Time out kami gunakan untuk mengatur strategi, tapi rupanya sang kapten sudah tersulut emosi karena suporter lawan lebih ramai, apa lagi kata-kata mereka cenderung tak sopan. Aku bisa melihatnya, kuarter pertama dia masih bertindak maju sendiri. Egois. Tapi lama-lama mungkin dia kualahan juga. Kami diarahkan oleh orang yang sempat menantangku, tak masalah, sekarang aku sudah bisa menerima itu sebagai suatu joke. Sempat Cici memerintahku,
”Ver, kamu rest dulu po?”
”Eh, jangan, vera tetep main.” mantan pelatihku memotong perkataan Cici.
Setelah strategi diatur, team kami berhasil mengimbangi kedudukan, sempat mengungguli, sempat juga tertinggal. Persaingannya sungguh sangat ketat.
Sempat beberapa kali Cici bertindak emosi, memprotes wasit, aku juga tahu wasit itu tak terlalu jeli, tapi aku tahan pertanyaan-pertanyaan, aku hanya tak menginginkan permainanku disuport oleh emosi, aku tak mau rugi.
Kuarter pertama berakhir, kedudukan masih unggul lawan, aku melihat raut kecewa di wajah Cici, tapi mantan pelatihku itu terus memberi arahan.
”Mba Ades belum dateng? telfon-telfon, mungkin aja dia udah selesai kuliah.”
Aku sempat membatin, aku belum mencetak angka, kalau Mbak Ades datang, aku mungkin kehilangan kesempatan main lagi.
Tapi rupanya tidak. Walaupun stamina kami sangat kualahan, tapi kuarter kedua kami berhasil mengungguli point, 8:7. Angka yang sangat tipis dan rawan. Satu kali saja lawan memasukkan bola, kami bisa-bisa kalah.
Waktu hanya tersisa hanya beberapa menit. Kali ini aku berkesempatan untuk mendrible, aku bawa bola itu sekuat dan sebisaku, hingga aku berada di bawah ring, hampir bola itu aku lemparkan, tapi lawanku melakukan volt. Aku mendapatkan kesempatan free throw.
Sorak dari suporter kami menyebut-nyebut namaku. Memoryku sontak memutar materi-materi yang diajarkan kekasihku. Aku coba menarik nafas, dan memposisikan kakiku selebar bahu. Bismillah keluar dari mulutku. Aku melempar bola itu dengan tanpa ragu. Bukan dengan ragu seperti kemarin, yang seharusnya aku bisa mencetak 10 angka.
”Mbak vera!! Mbak vera!!” adik kelasku semua menyumbangkan suara mereka, aku jamin setelah ini suara mereka serak. Bola itu kulempar.
”Yeeeeeeeeeeeee!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
”Yes! Alhamdulillah...”
Bola itu masuk tanpa pantulan apapun. Kedudukan menjadi 9:7.
Satu kesempatan lagi. Suara suporter itu belum melemah. Seperti memberi tenagaku kembali. Aku menjadi semakin percaya diri.
”Horeeeeeeeeeeeeee.................”
Bola kedua masuk. Waktu hanya beberapa detik saja. Aku membaca raut-raut gembira, stamina yang dipaksakan berbuah hasil, kedudukan menjadi 10:7. Aku sangat puas.
priiiiiiiiiiiiiiiittttttt.............
Waktu habis. Tika memelukku.
”Kita menang ve, aku seneng.”
”Makasih ya ver.” Ucap Lina
”Bagus-bagus....” Cici mengucap begitu, kami berjabat tangan.
Suporter teamku mengucapkan terimakasih untukku. Titik klimaks di mana aku merasa dihargai.
”Selamat ya, bagus...” mantan pelatihku mengucapkan itu terhadapku.
Aku merasa menemukan duniaku, di mana aku dihargai atas apa yang aku lakukan, apa yang aku perjuangkan. Yang terpenting adalah aku bisa belajar menerima kekalahan sebelum aku benar-benar siap untuk menang. Tuhan memang Maha Adil.... Dan aku tak berhenti mengucapkan syukur.........
Satu minggu lagi, pertandingan itu membuatku tidur tak nyenyak, aku hanya tak ingin merasa aku pribadi yang kecil dihadapan siapapun. Aku hanya merasa ingin dianggap keberadaannya, jika aku tak jatuh cinta dengan bola basket dan keringat, aku tak akan merelakan diri untuk dicemooh, aku terlanjur tak bisa melepaskan ini, paling tidak aku diberi waktu untuk membuktikan kali ini saja.
Setiap pukul 05:00 pagi aku menyempatkan diri untuk mencari keringat, tekadang berdua, bersama orang yang mencintaiku, dan lebih sering sendiri. Dan aku merasa puas dengan latihanku.
Malamnya, malam sebelum hari pertandingan itu, aku mendapat pesan singkat untuk berangkat 15 menit sebelum pertandingan, mengenakan kostum warna putih. Aku sudah menyiapkan semuanya. Celana warna silver bernomor 10 dan kaos putih.
Pukul 15:00 aku datang ke lapangan, ternyata ada kuliah mendadak, sampai-sampai aku tak bisa datang 15 menit sebelumnya, tapi rupanya yang datang baru empat orang. Yang aku kenal di antara mereka hanya satu, Tika namanya. kami dulu sering berlatih bersama. Cici datang, dia yang menjadi lawanku beberapa waktu yang lalu dan sempat membuatku emosi. Dia yang aku kira angkatan kakak kelasku karena gayanya yang sok senior, bukan lain, ternyata dia angkatan adik kelasku, tapi mungkin pengeculian baginya untuk menyapaku dengan panggilan yang agak sopan, tidak untuk Tika, yang dia panggil mbak Tika. Aku tak memperdulikan itu. Terserah dia, mungkin dia begitu karena orang yang selama ini dia harapkan untuk mencintainya justru mencintaiku. Satu point yang kumenangkan darinya. Aku tersenyum jika mengingat hal itu
Cici datang membawa kostum basket, yang dia pinjam dari fakultas keolahragaan, rupanya dia mempersiapkan kostum berwarna merah untuk menutupi kaos putih, dia membagikan kaos itu untukku, nomor punggung dan nomor celananya tidak kompak. Celananya bernomorkan 4, dan bajunya kalau tidak salah bernomorkan 9. Ternyata aku kebagian sisa. Tapi aku sama sekali tak merasa kecil. Sudah terbiasa aku dibegitukan. Di dalam tas tempat kostum itu ternyata masih ada kostum berwarna biru yang bernomor 14 kalau tidak salah.
”Ci, aku pake yang ini aja ya?”
”oh, ya boleh-boleh, dari pada nomornya ga sama.”
Aku memakai kostum yang berbeda dengan yang lain. Tak masalah.
Peluit dibunyikan tanda dimulai, kekasihku bersama kakak perempuanku sudah standby untuk menyaksikanku.
Kuarter pertama, aku hadir dalam pertandingan itu, dan aku berhasil mencetak 2 angka, walaupun seharusnya aku bisa mencetak 10 angka, ring itu masih mengajakku untuk bersabar. Tapi aku puas.
Kuarter kedua dimulai.
”Ver, kamu rest dulu ya?” Cici sang kapten memerintahku.
”OK” aku jawab santai.
”Mba Ades, main ya mbak.” perintahnya lagi.
Aku menonton kuarter kedua. Aneh, aku sama sekali tak merasa jengkel diistirahatkan di kuarter kedua ini. Ternyata aku telah puas dengan point yang aku ciptakan. Walaupun hanya dua.
Pertandingan dimenangkan oleh teamku. 8:0. Ada yang termakan omongannya sendiri. Orang yang pernah menantangku, kekasihnya kalah telak, 8:0, walaupun tak samapi 66:0.
Semenjak pertandingan itu, aku tak yakin aku main kembali dipertandingan final. Dan aku tak berharap. Aku hanya menunggu perintah kapten.
Tebakanku meleset. Sang kapten masih membutuhkanku. Besok pertandingan jam 14:00. Final.
Kali ini aku datang terlambat. Aku datang pukul 14:15. Sang kapten itu sudah menelponku berkali-kali. Begitu aku datang bersama kekasihku.
”Ho... kamu tak tunggu dari tadi.”
”iya, maaf, tadi ada acara mendadak.”
”ya udah, yang penting kita minimal ada 5 anak di sini.”
Ternyata dia bingung banyak pemain cadangan tak bisa datang.
Pertandingan kali ini berbeda, lebih meriah, atribut-atribut itu, bendera, dan kursi-kursi, rupannya ada lomba dance juga.
Dancer-dancer sexy menjadi penyambut pemain-pemain basket. Sembari menunggu, menonton dancer sambil stretching. Peluit sudah ditiup. Kali ini aku tak bisa meremehkan lawan. Aku tahu siapa lawanku, dia juga anak basket fakultas, biasa bermain bersama, terkadang.
”Ci, ini kostum kamu, makasih ya”
”oh ya, sama-sama.”
Aku kembalikan kostum Cici, yang membuatku tak kompak warna dengan teamku. Aku juga punya kaos merah bertuliskan nama Universitas, lebih tepatanya itu kaos kekasihku.
Kuarter pertama dimulai, tak ada pemain cadangan, hanya satu.
Ternyata benar feelingku, mereka tak bisa diremehkan, kuarter pertama teamku tertinggal 2 angka. Time out kami gunakan untuk mengatur strategi, tapi rupanya sang kapten sudah tersulut emosi karena suporter lawan lebih ramai, apa lagi kata-kata mereka cenderung tak sopan. Aku bisa melihatnya, kuarter pertama dia masih bertindak maju sendiri. Egois. Tapi lama-lama mungkin dia kualahan juga. Kami diarahkan oleh orang yang sempat menantangku, tak masalah, sekarang aku sudah bisa menerima itu sebagai suatu joke. Sempat Cici memerintahku,
”Ver, kamu rest dulu po?”
”Eh, jangan, vera tetep main.” mantan pelatihku memotong perkataan Cici.
Setelah strategi diatur, team kami berhasil mengimbangi kedudukan, sempat mengungguli, sempat juga tertinggal. Persaingannya sungguh sangat ketat.
Sempat beberapa kali Cici bertindak emosi, memprotes wasit, aku juga tahu wasit itu tak terlalu jeli, tapi aku tahan pertanyaan-pertanyaan, aku hanya tak menginginkan permainanku disuport oleh emosi, aku tak mau rugi.
Kuarter pertama berakhir, kedudukan masih unggul lawan, aku melihat raut kecewa di wajah Cici, tapi mantan pelatihku itu terus memberi arahan.
”Mba Ades belum dateng? telfon-telfon, mungkin aja dia udah selesai kuliah.”
Aku sempat membatin, aku belum mencetak angka, kalau Mbak Ades datang, aku mungkin kehilangan kesempatan main lagi.
Tapi rupanya tidak. Walaupun stamina kami sangat kualahan, tapi kuarter kedua kami berhasil mengungguli point, 8:7. Angka yang sangat tipis dan rawan. Satu kali saja lawan memasukkan bola, kami bisa-bisa kalah.
Waktu hanya tersisa hanya beberapa menit. Kali ini aku berkesempatan untuk mendrible, aku bawa bola itu sekuat dan sebisaku, hingga aku berada di bawah ring, hampir bola itu aku lemparkan, tapi lawanku melakukan volt. Aku mendapatkan kesempatan free throw.
Sorak dari suporter kami menyebut-nyebut namaku. Memoryku sontak memutar materi-materi yang diajarkan kekasihku. Aku coba menarik nafas, dan memposisikan kakiku selebar bahu. Bismillah keluar dari mulutku. Aku melempar bola itu dengan tanpa ragu. Bukan dengan ragu seperti kemarin, yang seharusnya aku bisa mencetak 10 angka.
”Mbak vera!! Mbak vera!!” adik kelasku semua menyumbangkan suara mereka, aku jamin setelah ini suara mereka serak. Bola itu kulempar.
”Yeeeeeeeeeeeee!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
”Yes! Alhamdulillah...”
Bola itu masuk tanpa pantulan apapun. Kedudukan menjadi 9:7.
Satu kesempatan lagi. Suara suporter itu belum melemah. Seperti memberi tenagaku kembali. Aku menjadi semakin percaya diri.
”Horeeeeeeeeeeeeee.................”
Bola kedua masuk. Waktu hanya beberapa detik saja. Aku membaca raut-raut gembira, stamina yang dipaksakan berbuah hasil, kedudukan menjadi 10:7. Aku sangat puas.
priiiiiiiiiiiiiiiittttttt.............
Waktu habis. Tika memelukku.
”Kita menang ve, aku seneng.”
”Makasih ya ver.” Ucap Lina
”Bagus-bagus....” Cici mengucap begitu, kami berjabat tangan.
Suporter teamku mengucapkan terimakasih untukku. Titik klimaks di mana aku merasa dihargai.
”Selamat ya, bagus...” mantan pelatihku mengucapkan itu terhadapku.
Aku merasa menemukan duniaku, di mana aku dihargai atas apa yang aku lakukan, apa yang aku perjuangkan. Yang terpenting adalah aku bisa belajar menerima kekalahan sebelum aku benar-benar siap untuk menang. Tuhan memang Maha Adil.... Dan aku tak berhenti mengucapkan syukur.........
Minggu, 30 Mei 2010
ReMeH !!
"Aku tantang kamu buat ngalahin dia, 66:0."
dalam senyapanku aku bukan merasa dianggap hebat, tapi aku justru merasa diremehkan, bagaimana tidak, aku dipertantang dengan orang yang jelas-jelas sudah mengenal basket semenjak SMP dan sekarang di universitaspun dia adalah orang penting dalam tim karena permainannya yang bagus. Tapi aku masih punya kesabaran untuk menjawab.
"Aku tak ada apa-apanya dengannya, jelas kamu salah menantang orang."
"oh, ya jelas tak ada apa-apanya!!!haahahah"
ada yang meluruh sakit di dadaku, dan emosiku tak terkendali.
"Aku sudah biasa diremehin, makanya aku males kumpul sama kalian."
sembari belalu aku mengatur nafas emosiku,
"Nesu... aku becanda yo........"
tapi itu tak ku hiraukan lagi, dia tak mengnalku, sehingga dia bisa dengan mudahnya mengatakan itu hanya bercanda. Aku tak sekuat itu guys menerima cemoohan.
Semenjak itu apa ada yang pernah melihatku basket lagi?
ENGGAK!!!
kecuali kalian sudah bangun dan menyempatkan diri berkunjung ke lapangan basket yang masih lengang.. Ada pribadi yang rapuh disitu, yang haus akan penghargaan...
Tapi aku memang tak seberapa dibandingkan orang lain, aku sadar betul.............
Untuk yang merasa tersinggung, aku memang tak bisa apa-apa, bahkan untuk menerima Joke untuk waktu-waktu tertentu....aku tak sekuat itu.
dalam senyapanku aku bukan merasa dianggap hebat, tapi aku justru merasa diremehkan, bagaimana tidak, aku dipertantang dengan orang yang jelas-jelas sudah mengenal basket semenjak SMP dan sekarang di universitaspun dia adalah orang penting dalam tim karena permainannya yang bagus. Tapi aku masih punya kesabaran untuk menjawab.
"Aku tak ada apa-apanya dengannya, jelas kamu salah menantang orang."
"oh, ya jelas tak ada apa-apanya!!!haahahah"
ada yang meluruh sakit di dadaku, dan emosiku tak terkendali.
"Aku sudah biasa diremehin, makanya aku males kumpul sama kalian."
sembari belalu aku mengatur nafas emosiku,
"Nesu... aku becanda yo........"
tapi itu tak ku hiraukan lagi, dia tak mengnalku, sehingga dia bisa dengan mudahnya mengatakan itu hanya bercanda. Aku tak sekuat itu guys menerima cemoohan.
Semenjak itu apa ada yang pernah melihatku basket lagi?
ENGGAK!!!
kecuali kalian sudah bangun dan menyempatkan diri berkunjung ke lapangan basket yang masih lengang.. Ada pribadi yang rapuh disitu, yang haus akan penghargaan...
Tapi aku memang tak seberapa dibandingkan orang lain, aku sadar betul.............
Untuk yang merasa tersinggung, aku memang tak bisa apa-apa, bahkan untuk menerima Joke untuk waktu-waktu tertentu....aku tak sekuat itu.
Selasa, 25 Mei 2010
Lelah
aku lelah dengan kemanjaanku sendiri, (Sebenarnya)
hanya sakit yang mampu kutangkap sebelum penyesalan datang membuat tekad sementara untuk tidak mengungkakpkan apapun.
Rasanya aku ingin mengumpat, tapi terlalu tak bijaksana hal itu.
Banyak pihak yang menyaranku untuk "sabar", sebenernya "GEDE" rasa inginku untuk menguasai ilmu yang satu itu, tapi entah kenapa aku merasa lelah dan terjerumus kembali dalam emosi yang sama sekali tak menguntungkan.
Aku takut orang-orang terdekatku pergi karena mereka juga "Lelah" menasehatiku dengan berbagai jamuan positif..
Ketopangan-ketopangan yang aku rasakan menguasai semua saraf otakku, terkadang itu semua tak terkendali...
LELAH...
tapi aku tak pernah menjauhi inginku dari sekedar "Sabar"
Sabar terhadap manusia-manusia yang menghakimiku...
Sabar terhadap keinginan-keinginan yang tak sejalan dengan kemauanku...
Sabar terhadap ketidakmampuanku...
Hah........
tadi malam, baru saja aku dapatkan "LAGI" wejangan-wejangan penggugah semangatku...
Itu membuatku sadar, aku harus Extra Fight untuk diriku sendiri...
Extra fight untuk kebahagiaanku sendiri, karena dengan begitu aku baru bisa membahagiakan orang lain....
Thanks to Kak Sesen, mba Isty atas hujaman positif tadi malam....
I'll try....mengalahkan 278100 !!!
hanya sakit yang mampu kutangkap sebelum penyesalan datang membuat tekad sementara untuk tidak mengungkakpkan apapun.
Rasanya aku ingin mengumpat, tapi terlalu tak bijaksana hal itu.
Banyak pihak yang menyaranku untuk "sabar", sebenernya "GEDE" rasa inginku untuk menguasai ilmu yang satu itu, tapi entah kenapa aku merasa lelah dan terjerumus kembali dalam emosi yang sama sekali tak menguntungkan.
Aku takut orang-orang terdekatku pergi karena mereka juga "Lelah" menasehatiku dengan berbagai jamuan positif..
Ketopangan-ketopangan yang aku rasakan menguasai semua saraf otakku, terkadang itu semua tak terkendali...
LELAH...
tapi aku tak pernah menjauhi inginku dari sekedar "Sabar"
Sabar terhadap manusia-manusia yang menghakimiku...
Sabar terhadap keinginan-keinginan yang tak sejalan dengan kemauanku...
Sabar terhadap ketidakmampuanku...
Hah........
tadi malam, baru saja aku dapatkan "LAGI" wejangan-wejangan penggugah semangatku...
Itu membuatku sadar, aku harus Extra Fight untuk diriku sendiri...
Extra fight untuk kebahagiaanku sendiri, karena dengan begitu aku baru bisa membahagiakan orang lain....
Thanks to Kak Sesen, mba Isty atas hujaman positif tadi malam....
I'll try....mengalahkan 278100 !!!
Selasa, 27 April 2010
S.A.K.I.T.
Pernahkah kalian merasa?
Yang sama sekali ingin ku rasa mati rasa...
Rasanya sangat menyakitiku, menggelayut semua bayangan yang tak bisa kuukirkan sendiri bagaimana itu.
Disaat kalian menanggung masalah-masalah yang saudara-saudara kalian tak mengetahuinya?
Yang sendiri berjuang menata kapan saatnya kalian mengurus diri sendiri?
Atau kalian juga terlalu dibuat sibuk oleh masalah-masalah yang sebenarnya itu bukan porsi kalian?
Ternyata sakit juga?
Terlampau sakit.
S . A . K . I . T .
Sakit sekali....
Sakit....
Sangat sakit!
SEKALI LAGI
S.A.K.I.T
28 apr -10
Yang sama sekali ingin ku rasa mati rasa...
Rasanya sangat menyakitiku, menggelayut semua bayangan yang tak bisa kuukirkan sendiri bagaimana itu.
Disaat kalian menanggung masalah-masalah yang saudara-saudara kalian tak mengetahuinya?
Yang sendiri berjuang menata kapan saatnya kalian mengurus diri sendiri?
Atau kalian juga terlalu dibuat sibuk oleh masalah-masalah yang sebenarnya itu bukan porsi kalian?
Ternyata sakit juga?
Terlampau sakit.
S . A . K . I . T .
Sakit sekali....
Sakit....
Sangat sakit!
SEKALI LAGI
S.A.K.I.T
28 apr -10
Lelah
Lelah hati, raga jua
Ketika hamparan emosi itu membelengguku
Meggayut satu-satu air mataku
Ketika itu juga aku sendiri
Ketika itu juga aku dilema
Ketika itu aku juga berpaling tak mungkin
Aku hanya sepercik api
Yang terkadang ingin memeluk air,
Dan mengalir bersamanya
Tapi rasanya aku ini terlalu berkobar
Tak ada yang menjamahku
Hampir tak bisa
Hampir tak ada
Walaupun tak semua
Tuhan,
Apakah Engkau menginginkanku disosok yang tegar?
Kalau begitu Tuhan, ajari aku... Untuk memikirkanku sendiri,
Agar aku bisa lebih memikirkan orang lain...
Amin.
Semarang, 11 apr -10
Ketika hamparan emosi itu membelengguku
Meggayut satu-satu air mataku
Ketika itu juga aku sendiri
Ketika itu juga aku dilema
Ketika itu aku juga berpaling tak mungkin
Aku hanya sepercik api
Yang terkadang ingin memeluk air,
Dan mengalir bersamanya
Tapi rasanya aku ini terlalu berkobar
Tak ada yang menjamahku
Hampir tak bisa
Hampir tak ada
Walaupun tak semua
Tuhan,
Apakah Engkau menginginkanku disosok yang tegar?
Kalau begitu Tuhan, ajari aku... Untuk memikirkanku sendiri,
Agar aku bisa lebih memikirkan orang lain...
Amin.
Semarang, 11 apr -10
Langganan:
Postingan (Atom)

