"Aku tantang kamu buat ngalahin dia, 66:0."
dalam senyapanku aku bukan merasa dianggap hebat, tapi aku justru merasa diremehkan, bagaimana tidak, aku dipertantang dengan orang yang jelas-jelas sudah mengenal basket semenjak SMP dan sekarang di universitaspun dia adalah orang penting dalam tim karena permainannya yang bagus. Tapi aku masih punya kesabaran untuk menjawab.
"Aku tak ada apa-apanya dengannya, jelas kamu salah menantang orang."
"oh, ya jelas tak ada apa-apanya!!!haahahah"
ada yang meluruh sakit di dadaku, dan emosiku tak terkendali.
"Aku sudah biasa diremehin, makanya aku males kumpul sama kalian."
sembari belalu aku mengatur nafas emosiku,
"Nesu... aku becanda yo........"
tapi itu tak ku hiraukan lagi, dia tak mengnalku, sehingga dia bisa dengan mudahnya mengatakan itu hanya bercanda. Aku tak sekuat itu guys menerima cemoohan.
Semenjak itu apa ada yang pernah melihatku basket lagi?
ENGGAK!!!
kecuali kalian sudah bangun dan menyempatkan diri berkunjung ke lapangan basket yang masih lengang.. Ada pribadi yang rapuh disitu, yang haus akan penghargaan...
Tapi aku memang tak seberapa dibandingkan orang lain, aku sadar betul.............
Untuk yang merasa tersinggung, aku memang tak bisa apa-apa, bahkan untuk menerima Joke untuk waktu-waktu tertentu....aku tak sekuat itu.
Minggu, 30 Mei 2010
Selasa, 25 Mei 2010
Lelah
aku lelah dengan kemanjaanku sendiri, (Sebenarnya)
hanya sakit yang mampu kutangkap sebelum penyesalan datang membuat tekad sementara untuk tidak mengungkakpkan apapun.
Rasanya aku ingin mengumpat, tapi terlalu tak bijaksana hal itu.
Banyak pihak yang menyaranku untuk "sabar", sebenernya "GEDE" rasa inginku untuk menguasai ilmu yang satu itu, tapi entah kenapa aku merasa lelah dan terjerumus kembali dalam emosi yang sama sekali tak menguntungkan.
Aku takut orang-orang terdekatku pergi karena mereka juga "Lelah" menasehatiku dengan berbagai jamuan positif..
Ketopangan-ketopangan yang aku rasakan menguasai semua saraf otakku, terkadang itu semua tak terkendali...
LELAH...
tapi aku tak pernah menjauhi inginku dari sekedar "Sabar"
Sabar terhadap manusia-manusia yang menghakimiku...
Sabar terhadap keinginan-keinginan yang tak sejalan dengan kemauanku...
Sabar terhadap ketidakmampuanku...
Hah........
tadi malam, baru saja aku dapatkan "LAGI" wejangan-wejangan penggugah semangatku...
Itu membuatku sadar, aku harus Extra Fight untuk diriku sendiri...
Extra fight untuk kebahagiaanku sendiri, karena dengan begitu aku baru bisa membahagiakan orang lain....
Thanks to Kak Sesen, mba Isty atas hujaman positif tadi malam....
I'll try....mengalahkan 278100 !!!
hanya sakit yang mampu kutangkap sebelum penyesalan datang membuat tekad sementara untuk tidak mengungkakpkan apapun.
Rasanya aku ingin mengumpat, tapi terlalu tak bijaksana hal itu.
Banyak pihak yang menyaranku untuk "sabar", sebenernya "GEDE" rasa inginku untuk menguasai ilmu yang satu itu, tapi entah kenapa aku merasa lelah dan terjerumus kembali dalam emosi yang sama sekali tak menguntungkan.
Aku takut orang-orang terdekatku pergi karena mereka juga "Lelah" menasehatiku dengan berbagai jamuan positif..
Ketopangan-ketopangan yang aku rasakan menguasai semua saraf otakku, terkadang itu semua tak terkendali...
LELAH...
tapi aku tak pernah menjauhi inginku dari sekedar "Sabar"
Sabar terhadap manusia-manusia yang menghakimiku...
Sabar terhadap keinginan-keinginan yang tak sejalan dengan kemauanku...
Sabar terhadap ketidakmampuanku...
Hah........
tadi malam, baru saja aku dapatkan "LAGI" wejangan-wejangan penggugah semangatku...
Itu membuatku sadar, aku harus Extra Fight untuk diriku sendiri...
Extra fight untuk kebahagiaanku sendiri, karena dengan begitu aku baru bisa membahagiakan orang lain....
Thanks to Kak Sesen, mba Isty atas hujaman positif tadi malam....
I'll try....mengalahkan 278100 !!!
Selasa, 27 April 2010
S.A.K.I.T.
Pernahkah kalian merasa?
Yang sama sekali ingin ku rasa mati rasa...
Rasanya sangat menyakitiku, menggelayut semua bayangan yang tak bisa kuukirkan sendiri bagaimana itu.
Disaat kalian menanggung masalah-masalah yang saudara-saudara kalian tak mengetahuinya?
Yang sendiri berjuang menata kapan saatnya kalian mengurus diri sendiri?
Atau kalian juga terlalu dibuat sibuk oleh masalah-masalah yang sebenarnya itu bukan porsi kalian?
Ternyata sakit juga?
Terlampau sakit.
S . A . K . I . T .
Sakit sekali....
Sakit....
Sangat sakit!
SEKALI LAGI
S.A.K.I.T
28 apr -10
Yang sama sekali ingin ku rasa mati rasa...
Rasanya sangat menyakitiku, menggelayut semua bayangan yang tak bisa kuukirkan sendiri bagaimana itu.
Disaat kalian menanggung masalah-masalah yang saudara-saudara kalian tak mengetahuinya?
Yang sendiri berjuang menata kapan saatnya kalian mengurus diri sendiri?
Atau kalian juga terlalu dibuat sibuk oleh masalah-masalah yang sebenarnya itu bukan porsi kalian?
Ternyata sakit juga?
Terlampau sakit.
S . A . K . I . T .
Sakit sekali....
Sakit....
Sangat sakit!
SEKALI LAGI
S.A.K.I.T
28 apr -10
Lelah
Lelah hati, raga jua
Ketika hamparan emosi itu membelengguku
Meggayut satu-satu air mataku
Ketika itu juga aku sendiri
Ketika itu juga aku dilema
Ketika itu aku juga berpaling tak mungkin
Aku hanya sepercik api
Yang terkadang ingin memeluk air,
Dan mengalir bersamanya
Tapi rasanya aku ini terlalu berkobar
Tak ada yang menjamahku
Hampir tak bisa
Hampir tak ada
Walaupun tak semua
Tuhan,
Apakah Engkau menginginkanku disosok yang tegar?
Kalau begitu Tuhan, ajari aku... Untuk memikirkanku sendiri,
Agar aku bisa lebih memikirkan orang lain...
Amin.
Semarang, 11 apr -10
Ketika hamparan emosi itu membelengguku
Meggayut satu-satu air mataku
Ketika itu juga aku sendiri
Ketika itu juga aku dilema
Ketika itu aku juga berpaling tak mungkin
Aku hanya sepercik api
Yang terkadang ingin memeluk air,
Dan mengalir bersamanya
Tapi rasanya aku ini terlalu berkobar
Tak ada yang menjamahku
Hampir tak bisa
Hampir tak ada
Walaupun tak semua
Tuhan,
Apakah Engkau menginginkanku disosok yang tegar?
Kalau begitu Tuhan, ajari aku... Untuk memikirkanku sendiri,
Agar aku bisa lebih memikirkan orang lain...
Amin.
Semarang, 11 apr -10
Lagi
Lagi-lagi aku menghujam
Lagi-lagi aku tak sadar
Lagi-lagi aku tahu, ini diartikan lain
kenapa hatiku mati, salah siapa?
Kapan ku bisa merengkuh hidupku yang kian hina saja
Aku ini manusia, tapi jangan anggap aku malaikat..
Aku tak lebih dari iblis penuh kelicikan dan kenistaan
Wahai siapa saja yang mendengar
Aku tak patut di awangkan
Sungguh tak tak pantas...
Lagi-lagi aku tak sadar
Lagi-lagi aku tahu, ini diartikan lain
kenapa hatiku mati, salah siapa?
Kapan ku bisa merengkuh hidupku yang kian hina saja
Aku ini manusia, tapi jangan anggap aku malaikat..
Aku tak lebih dari iblis penuh kelicikan dan kenistaan
Wahai siapa saja yang mendengar
Aku tak patut di awangkan
Sungguh tak tak pantas...
Euforia
Ketika semua ini terlarang
Aku tak bisa terima bahwa aku terlontar dari impi-impi hati...
Bahwa dia itu, buaikan jadi yang terikat oleh tali harap..
Betapa rasa ini tak bisa ku cerna..
Eoforia atau selamanya..
Debu atau sebesar dunia..
Lagi-lagi harus merela aku..
20 Agustus 2009
Aku tak bisa terima bahwa aku terlontar dari impi-impi hati...
Bahwa dia itu, buaikan jadi yang terikat oleh tali harap..
Betapa rasa ini tak bisa ku cerna..
Eoforia atau selamanya..
Debu atau sebesar dunia..
Lagi-lagi harus merela aku..
20 Agustus 2009
Satu-satu
Rapuh...
Satu-satu...
Dia hanya jadi pahlawan sementaraku,
Yang satu terkadang muncul, terkadang tak kasat mata...
Yang satu, ada, tapi terkadang semua porak poranda, ketika aku temu satu titik yang tak bisa terbongkah...
Semua satu-satu ku jadikan gua pertapaanku, tapi runtuh semua satu-satu..
Telalu lelah payah aku mencernanya..
Apa mungkin hati mati begitu saja..
Satu-satu ku ikhlaskan, ku hanya sebutir debu yang terlalu ringan untuk dihempaskan
Satu-satu terlalu semu...
Buyar...
Kemudian hilang tak terjejak.
Satu-satu...
Dia hanya jadi pahlawan sementaraku,
Yang satu terkadang muncul, terkadang tak kasat mata...
Yang satu, ada, tapi terkadang semua porak poranda, ketika aku temu satu titik yang tak bisa terbongkah...
Semua satu-satu ku jadikan gua pertapaanku, tapi runtuh semua satu-satu..
Telalu lelah payah aku mencernanya..
Apa mungkin hati mati begitu saja..
Satu-satu ku ikhlaskan, ku hanya sebutir debu yang terlalu ringan untuk dihempaskan
Satu-satu terlalu semu...
Buyar...
Kemudian hilang tak terjejak.
Langganan:
Postingan (Atom)

