Pernahkah kalian merasa?
Yang sama sekali ingin ku rasa mati rasa...
Rasanya sangat menyakitiku, menggelayut semua bayangan yang tak bisa kuukirkan sendiri bagaimana itu.
Disaat kalian menanggung masalah-masalah yang saudara-saudara kalian tak mengetahuinya?
Yang sendiri berjuang menata kapan saatnya kalian mengurus diri sendiri?
Atau kalian juga terlalu dibuat sibuk oleh masalah-masalah yang sebenarnya itu bukan porsi kalian?
Ternyata sakit juga?
Terlampau sakit.
S . A . K . I . T .
Sakit sekali....
Sakit....
Sangat sakit!
SEKALI LAGI
S.A.K.I.T
28 apr -10
Selasa, 27 April 2010
Lelah
Lelah hati, raga jua
Ketika hamparan emosi itu membelengguku
Meggayut satu-satu air mataku
Ketika itu juga aku sendiri
Ketika itu juga aku dilema
Ketika itu aku juga berpaling tak mungkin
Aku hanya sepercik api
Yang terkadang ingin memeluk air,
Dan mengalir bersamanya
Tapi rasanya aku ini terlalu berkobar
Tak ada yang menjamahku
Hampir tak bisa
Hampir tak ada
Walaupun tak semua
Tuhan,
Apakah Engkau menginginkanku disosok yang tegar?
Kalau begitu Tuhan, ajari aku... Untuk memikirkanku sendiri,
Agar aku bisa lebih memikirkan orang lain...
Amin.
Semarang, 11 apr -10
Ketika hamparan emosi itu membelengguku
Meggayut satu-satu air mataku
Ketika itu juga aku sendiri
Ketika itu juga aku dilema
Ketika itu aku juga berpaling tak mungkin
Aku hanya sepercik api
Yang terkadang ingin memeluk air,
Dan mengalir bersamanya
Tapi rasanya aku ini terlalu berkobar
Tak ada yang menjamahku
Hampir tak bisa
Hampir tak ada
Walaupun tak semua
Tuhan,
Apakah Engkau menginginkanku disosok yang tegar?
Kalau begitu Tuhan, ajari aku... Untuk memikirkanku sendiri,
Agar aku bisa lebih memikirkan orang lain...
Amin.
Semarang, 11 apr -10
Lagi
Lagi-lagi aku menghujam
Lagi-lagi aku tak sadar
Lagi-lagi aku tahu, ini diartikan lain
kenapa hatiku mati, salah siapa?
Kapan ku bisa merengkuh hidupku yang kian hina saja
Aku ini manusia, tapi jangan anggap aku malaikat..
Aku tak lebih dari iblis penuh kelicikan dan kenistaan
Wahai siapa saja yang mendengar
Aku tak patut di awangkan
Sungguh tak tak pantas...
Lagi-lagi aku tak sadar
Lagi-lagi aku tahu, ini diartikan lain
kenapa hatiku mati, salah siapa?
Kapan ku bisa merengkuh hidupku yang kian hina saja
Aku ini manusia, tapi jangan anggap aku malaikat..
Aku tak lebih dari iblis penuh kelicikan dan kenistaan
Wahai siapa saja yang mendengar
Aku tak patut di awangkan
Sungguh tak tak pantas...
Euforia
Ketika semua ini terlarang
Aku tak bisa terima bahwa aku terlontar dari impi-impi hati...
Bahwa dia itu, buaikan jadi yang terikat oleh tali harap..
Betapa rasa ini tak bisa ku cerna..
Eoforia atau selamanya..
Debu atau sebesar dunia..
Lagi-lagi harus merela aku..
20 Agustus 2009
Aku tak bisa terima bahwa aku terlontar dari impi-impi hati...
Bahwa dia itu, buaikan jadi yang terikat oleh tali harap..
Betapa rasa ini tak bisa ku cerna..
Eoforia atau selamanya..
Debu atau sebesar dunia..
Lagi-lagi harus merela aku..
20 Agustus 2009
Satu-satu
Rapuh...
Satu-satu...
Dia hanya jadi pahlawan sementaraku,
Yang satu terkadang muncul, terkadang tak kasat mata...
Yang satu, ada, tapi terkadang semua porak poranda, ketika aku temu satu titik yang tak bisa terbongkah...
Semua satu-satu ku jadikan gua pertapaanku, tapi runtuh semua satu-satu..
Telalu lelah payah aku mencernanya..
Apa mungkin hati mati begitu saja..
Satu-satu ku ikhlaskan, ku hanya sebutir debu yang terlalu ringan untuk dihempaskan
Satu-satu terlalu semu...
Buyar...
Kemudian hilang tak terjejak.
Satu-satu...
Dia hanya jadi pahlawan sementaraku,
Yang satu terkadang muncul, terkadang tak kasat mata...
Yang satu, ada, tapi terkadang semua porak poranda, ketika aku temu satu titik yang tak bisa terbongkah...
Semua satu-satu ku jadikan gua pertapaanku, tapi runtuh semua satu-satu..
Telalu lelah payah aku mencernanya..
Apa mungkin hati mati begitu saja..
Satu-satu ku ikhlaskan, ku hanya sebutir debu yang terlalu ringan untuk dihempaskan
Satu-satu terlalu semu...
Buyar...
Kemudian hilang tak terjejak.
Perbincangan Isyarat

Diriku hanya terpaku dikamar yang membuat hati memar tergelepar berpencar....
Ada yang menyahut...
Peri-perimu yang terlontar menyelundupkan makna yang bahkan tangan-tangan ini tak mampu mencari...
Jawabnya...
Tapi sang peri pergi meninggalkan seribu bayang semu yang kian lama kan menjadi batu...
Lalu memanas bagaikan bara merapi...
Lanjut sahut....
Peri bukan bayangan, bukan bernyawa, tapi peri maknaku alunan... yang ketika teraksara itu bisa terbaca bersemayam sebangsa suatu yang kadang tak ku mengerti...
Terjawab begini...
Apalah arti alunan tanpa nada? yang hanya membutakan mata dan memekakan telinga hingga tak terbaca..
Hanya ada kekosongan belaka...
Kemudian tersahut lagi...
Tlah ku coba mendentingkannya tapi rupanya tangan ini tak mampu mengibas kekosongan, yang sebenarnya kau sembunyikan sendiri hingga beku dan kaku...
Sanggahnya...
Dentingmu hanya paradigma dunia yang tak lagi digunakan untuk menerka... Hadirmu tlah menegakkan sendi-sendi yang biasanya lunglai menjadi tegak berdiri...
Terjawab lagi...
Yang kau lihat hanya bayangan..
yang duri-durinya tajam, dan kerap kali terlalu topang untuk dimaknai...
Mati rasa yang buat begitu terlalu tak peka...
Jawab lagi....
Tergores... Tergores...
Bagaikan pisau tajam tulisanmu menggores makna hatimu sendiri...
Biarkanlah bayang maknamu ku dekap...
Meskipun duri itu kan membunuhku perlahan...
Jawaban lagi...
Ngeri ketika semuanya hampir berulang..
Aku hanya ingin tancapkan itu di sudut yang kau sebut hati.. hati sendri...
Terlalu fana aku cerna hingga aku terlalu tak yakin untuk melangkah maju.
Kemudian dia mengakhiri...
Ketika palung hatimu berbicara, dengarkanlah...
Perkataan sesungguhnya dari semua itu kan terpapar saat palung hati berbicara...
Karena hati tak mengenal makna... hanya rasa yang ia tahu...
Egois
Apa yang aku tindak lakuku
bernilai tak benar dan mungkin aku ini terlalu egois d mana-mana
tak ada yang mampu membaca setitik linangan yang membendung di mata......belum sempat jatuh..
Aku ini lelah untuk mengerti artinya aku dimata kalian, yang kalian tau aku begitu... egois...
Aku bukan sesuatu yang batu, keras...
aku ini punya airmata yang kapan saja bisa mengalir keluar dari sarangnya...
aku hanya bisa begitu merasa sendiri ketika aku ingat aku selalu ada untuk kalian...
Bukan aku pamrih...
anggap saja aku ini sedang bertindak egois, bukankah hanya itu yang kalian tau dari aku.............?????????????????????
bernilai tak benar dan mungkin aku ini terlalu egois d mana-mana
tak ada yang mampu membaca setitik linangan yang membendung di mata......belum sempat jatuh..
Aku ini lelah untuk mengerti artinya aku dimata kalian, yang kalian tau aku begitu... egois...
Aku bukan sesuatu yang batu, keras...
aku ini punya airmata yang kapan saja bisa mengalir keluar dari sarangnya...
aku hanya bisa begitu merasa sendiri ketika aku ingat aku selalu ada untuk kalian...
Bukan aku pamrih...
anggap saja aku ini sedang bertindak egois, bukankah hanya itu yang kalian tau dari aku.............?????????????????????
Langganan:
Postingan (Atom)

